KARENA (BERKAT) INDONESIA BERBEDA

Indonesia sebuah negara dengan wilayah yang luas dan memiliki ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tentu saja masyarakat setiap pulau tidak akan sama latar belakang sosialnya. Indonesia yang memiliki jumlah penduduk banyak juga memiliki banyak perbedaan di dalamnya. Mulai dari agama, ras, suku bangsa hingga bahasa. Namun sebagian orang tidak bisa menerima perbedaan tersebut karena tidak adanya sikap toleransi di dalamnya.

Dilihat dari sejarahnya sebenarnya Indonesia sudah menyatakan sikap toleransi. “Bhineka Tunggal Ika” adalah bukti bahwa Indonesia setuju bahwa bangsa ini memang pluralisme. Pendiri bangsa ini sepakat bahwa Indonesia bukan hanya milik satu golongan, agama atau suku saja. Namun milik seluruh rakyat yang merasa memiliki dan memperjuangkannya.

Jauh sebelum itu, kerajaan majapahit juga memiliki rasa toleransi tinggi dengan memperbolehkan agama budha, hindu dan minoritas islam menyebarkan ajarannya kepada rakyat majapahit. Lalu kenapa dengan sikap toleransi yang sudah disepakati oleh nenek moyang bangsa ini masih saja diganggu gugat oleh sebagian orang yang merasa paling benar. Sebenarnya pada fitrahnya negara ini memang lahir dari pluralisme. Namun ada beberapa bentuk toleransi yang masih susah untuk implementasikan.

 

  1. Agama

Indonesia yang memiliki enam agama resmi tidak dapat menutup kemungkinan masih ada sikap intoleran dari beberapa masyarakat. Isu intoleran mencuat kembali saat pilkada Jakarta di akhir 2016. Dimulai dari pidato Basuki T.P (Ahok) di kepulauan seribu yang dinilai menista agama islam. Dan menyebabkan beberapa demonstrasi dengan nama #AksiBelaIslam yang menuntut agar Ahok segera diadili. Namun aksi terbebut malah dikecam sebagai aksi intoleran bagi beberapa orang. Juga ada beberapa isu tentang pergerakan yang ingin mengubah ideologi dan sistem negara menjadi negara khalifah. Isu ini ditanggapi oleh beberapa orang sebagai sikap tidak menerima perbedaan keyakinan dalam masyarakat.

Indonesia sebagai negara yang mengakui beberapa agama secara resmi sudah bisa hidup berdampingan sejak lama. Untuk apa negara ini dibuat menjadi negara yang hanya mengakui satu agama. Pada kenyataannya malah berbanding terbalik dengan Indonesia. Banyak negara yang hanya mengakui satu agama resmi namun malah banyak yang tidak bisa hidup aman di negara tersebut. Contohnya beberapa negara di kawasan timur tengah yang saling bertikai padahal sama-sama menjunjung tinggi agama yang sama. Bila di Indonesia seluruh masyarakatnya memiliki keyakinan yang sama tidak ada jaminan akan bisa hidup damai. Lalu mengapa masih memperdebatkan perbedaan keyakinan kita.

 

  1. Ras dan Etnis

Yang paling mencolok dalam isu ini adalah dalam perbedaan warna kulit. Masih ada beberapa yang menganggap beda warna kulit berarti beda kelas atau derajatnya. Indonesia memiliki masyarakat dengan ras dan etnis berbeda-beda. Mayoritas masyarakat Indonesia adalah ras melayu yang menyebar dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Bali. Sedangkan ras melanesia menyebar di pulau Papua dan pulau di Nusa Tenggara. Selain itu ada beberapa etnis minoritas yang ada di Indonesia antara lain etnis Tionghoa, India dan Arab. Etnis pendatang tersebut datang ke Indonesia bertujuan untuk berdagang hingga menetap dan beranak-pinak di nusantara.

Belakangan ini banyak isu intoleran terhadap etnis Tionghoa, akibat dari dampak kasus Ahok. Sebenarnya diskriminasi terhadap minoritas Tionghoa sudah berlangsung dari ratusan tahun yang lalu. Diskriminasi ini didasari dari perasaan benci dari kaum pribumi karena menganggap etnis Tionghoa sudah memonopoli ekonomi di Indonesia. Dari jaman VOC etnis Tionghoa dijadikan mitra dagang VOC dan mendapat perlakuan khusus dari VOC. Sementara kaum pribumi menjadi jajahan VOC dan menderita bertahun-tahun.

Lalu pada era orde baru yang menganggap etnis Tionghoa diistimewakan oleh pemerintah kala itu dan semakin memperkuat ekonomi kaum Tionghoa. Kecemburuan sosial ini yang menyebabkan etnis Tionghoa menjadi target diskriminasi dari beberapa orang yang tidak suka pada mereka. Padahal hanya sebagian orang dari etnis Tionghoa yang mendapat perlakuan khusus dari penguasa. Namun malah membuat seluruh kaum Tionghoa mendapat predikat jelek dari sebagian kaum pribumi.

Kebencian terhadap etnis Tionghoa menyebabkan beberapa peristiwa pelanggaran HAM yang menargetkan pada kaum Tionghoa. Peristiwa penumpasan PKI pada masa awal orde baru, etnis Tionghoa banyak yang ditangkap karena dianggap sebagai anggota PKI. Hal ini didasarkan karena Tiongkok sebagai negara asalnya merupakan negara komunis. Kemudian peristiwa ’98 yang menyasar etnis Tionghoa sebagai pelampiasan kekesalan. Banyak perampokan, penganiayaan, pemerkosaan hingga pembunuhan yang menyasar pada warga Tionghoa. Bila dilihat dari sejarah kelamnya di Indonesia, etnis Tionghoa selalu dianggap orang asing walau sudah resmi menjadi WNI. Dan kita sebenarnya juga bisa menilai sendiri sebenarnya siapa yang lebih kejam.

Isu rasial sebenarnya dapat diredam dengan saling menghargai setiap hak orang lain. Indonesia adalah negara yang memiliki multi-ras, walaupun tidak terlalu banyak. Indonesia bisa mencontoh negara negara maju dalam mengatasi isu rasial dengan baik seperti Amerika, Inggris dan beberapa negara Eropa lain. Dan nantinya Indonesia bisa menjadi negara yang dapat hidup harmonis dengan banyaknya perbedaan didalamnya.

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang suka berkelompok. Mulai dari berkelompok berdasarkan kesamaan agama, ras, suku maupun dalam kesamaan lain. Masyarakat Indonesia lebih suka hidup bergolong-golongan dengan sesamanya dari pada yang berbeda. Terbukti dari masih ada daerah yang perbandingan penduduk minoritas dan mayoritasnya jauh.

Bagaimana bila Indonesia menjadi negara yang homogen, secara agama, ras dan suku semua masyarakatnya sama. Maka akan ada pengelompokan lain berdasarkan sifat tertentu. Seperti pengelompokan sosial dan ekonomi, masyarakat akan mengelompok dengan latar belakang sosial maupun ekonomi yang sama. Yang kaya akan berkelompok dengan yang kaya dan yang miskin akan berkelompok dengan yang miskin. Hal ini akan mengakibatkan tingkat kesenjangan sosial semakin tinggi.

Maka dari itu jangan terlalu menuntut banyak pada negeri ini, tapi apa kontribusi rakyatnya untuk negara. Itulah Indonesia “Bhineka tunggal Ika” begitulah adanya, jangan mengubah Indonesia tapi berusahalah menjaganya tetap damai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *