MAHASISWA BUTUH PERAYAAN

Kita harus mengakui mahasiswa memiliki peran sebagai punggawa perubahan. Pengaruh terbesarnya adalah ketika upaya penggulingan rezim orde baru. Mahasiswa serentak melakukan demonstrasi dengan tujuan menggulingkan presiden Suharto. Pergerakannya dimulai pada awal Mei hingga puncaknya tanggal 19 Mei 1998 di gedung DPR MPR. Tanpa memandang perbedaan, semua mahasiswa hanya menginginkan perubahan negeri ini. Sampai terpenuhi tuntutan mahasiswa pada 21 Mei 1998 yang kita sebut sebagai reformasi.

 

Karakter mahasiswa sekarang terkesan bertolak belakang dengan era 90-an. Mahasiswa lebih suka predikatnya sebagai mahasiswa karena sejarahnya daripada bangga pada apa yang dilakukannya. Praktik mahasiswa saat ini lebih berorientasi pada kepentingan. Sebagai contoh memilah- milah isu sesuai dengan kepentingannya. Ibarat macan vegetararian, isu HAM, SARA, Korupsi dan Politik sudah tak menarik minat kalangan mahasiswa.

 

Mahasiswa tidak suka turun ke jalan untuk orasi ataupun demonstrasi. Sebenarnya mereka tahu soal isu yang berkembang, namun hanya sekadar tahu. Bila ditanya perihal isu yang berkembang, mereka tanggap karena tahu. Namun hanya pemahaman teoritis tanpa tindakan sebagai outputnya.

 

Beban kuliah menjadi alasan mayoritas mahasiswa enggan dalam mengikuti gerakan gerakan yang bersifat kritis. Mereka tidak ingin kegiatan-kegiatan​ seperti itu menghambat perkuliahannya. Mahasiswa seperti ini yang bisa disebut “Mahasiswa cari aman”, maksudnya adalah mereka tidak ingin berbuat macam-macam. Prinsipnya jadi mahasiswa kuliah, belajar dan lulus, tanpa memiliki tujuan lain selain kedua hal tersebut. Ini yang menyebabkan pergerakan mahasiswa terlihat lesu.

 

Dalam sejarahnya mahasiswa memiliki peran penting dalam perubahan sejarah. Tak hanya di Indonesia, dalam sejarah perlawanan mahasiswa paling berani dan berpengaruh adalah saat perlawanan mahasiswa Republik Ceko pada tahun 1939 di Ceko. “Tahun itu merupakan saat-saat yang sangat menyakitkan bagi rakyat Ceko yang tengah menghadapi pendudukan tentara Nazi Jerman. Dengan semangat perayaan HUT kemerdekaan Republik Ceko, pada 28 Oktober, sejumlah mahasiswa Fakultas Kesehatan Universitas Charles Praha menggelar aksi demonstrasi menentang pendudukan Nazi. Aksi ini terus berlanjut, hingga akhirnya, pada tanggal 11 November, Jan Opletal, salah satu pentolan demonstran tewas tertembak di bagian perut.Pada tanggal 15 November, tak disangka, prosesi pemakaman Jan Opletal dibanjiri ribuan mahasiswa, yang kemudian sontak memanfatkan rombongan mereka untuk menggelar demonstrasi anti-Nazi. Gerakan inilah yang membuat Nazi berang dan mengambil tindakan menutup semua perguruan tinggi di Ceko. Selain itu, tercatat 1200 mahasiswa ditangkap dan dijebloskan ke kamp konsentrasi, serta sembilan orang mahasiswa beserta profesor dieksekusi mati tanpa proses peradilan pada tanggal 17 November. Inilah salah satu alasan tanggal tersebut diabadikan sebagai Hari Mahasiswa Internasional (International Students’ Day), yang untuk pertama kali diperingati oleh Dewan Mahasiswa Internasional di London pada tahun 1941. Tradisi ini kemudian terus dilanjutkan oleh penggantinya, Serikat Mahasiswa Internasional, yang dengan dukungan Serikat Nasional Mahasiswa di Eropa dan sejumah organisasi lainnya mendesak PBB untuk mencatatkan secara resmi Hari Mahasiswa Internasional dalam kalender mereka.” Http://m.kompasiana.com/restunurwahyudin/sekilas-hari-mahasiswa_55004df1813311461bfa746d.

 

Dalam sejarahnya mahasiswa tidak takut dalam memperjuangkan rakyat walau nyawa menjadi taruhan. Baik kasus di Ceko maupun tragedi Trisakti memiliki korban jiwa yang membuat mahasiswa semakin bersatu dalam demonstrasi. Kini banyak mahasiswa yang takut kehilangan angka dari pada berjuang untuk keadilan. Dan mulai lemahnya mahasiswa dalam pergerakan ditandai dengan kurangnya aksi mahasiswa yang melibatkan banyak perguruan tinggi. aksi-aksi hanya dilakukan oleh sebagian kecil mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi. Kini mahasiswa terpetakan berdasarkan perguruan tingginya masing-masing​. Kurang adanya rasa kesatuan dari mahasiswa antar perguruan tinggi. Pada masa ‘98 mahasiswa turun serentak tanpa pandang beda perguruan tinggi karena memiliki tujuan yang sama. Namun tujuan dari masing-masing​ mahasiswi saat ini berbeda-beda.

17 November adalah hari mahasiswa internasional, namun di Indonesia masih jarang mahasiswa Indonesia memperingatinya. Padahal bila satu hari dalam setahun ada sebuah peringatan untuk sarana mahasiswa Indonesia bersatu, serentak turun ke jalan itu akan menjadikan mahasiswa lebih solid dalam persatuan. Mungkin peringatan hari mahasiswa internasional terlalu luas cangkupanya dan kurang berbau nasionalis. Mungkin perlu dibuat Hari Mahasiswa Nasional agar mahasiswa Indonesia lebih nasionalis dalam merayakannya. mahasiswa bisa saja memperingati kejadian sewaktu peristiwa ‘98 saat mahasiswa menduduki gedung DPR MPR pada 19 mei ‘98. Hal tersebut bisa menjadi simbol pergerakan mahasiswa nasional.

 

Menumbuhkan budaya kritis memang sulit bila hanya dengan teori saja. Dan membangun rasa kesatuan di dalam mahasiswa tidaklah mudah. Tantangan terbesar mahasiswa kini adalah egonya sendiri, bukan orang lain. Maukah mahasiswa tak lagi apatis, dan mulai memikirkan negerinya. Mahasiswa adalah awal dari perubahan namun bagaimana bila mahasiswa tak mau berubah. (Antoni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *