MENAPAK JEJAK PERHIMPUNAN PERS MAHASISWA INDONESIA

MENAPAK JEJAK PERHIMPUNAN PERS MAHASISWA INDONESIA

Tim Penulis         :  Moh. Fathoni, Damianus Guruh Dwi Riyanto, Fajar Kelana, Edi Susilo

Editor                    :  Moh. Kodim, Tommy Apriando, Rudini Sirat

Penerbit              : PT KOMODO BOOKS

Cetakan               : Ke-1, Mei 2012

Isi                            : xiii + 230 halaman

Bab 1

Cerita tentang sejarah terbentuknya IPMI(sebelum PPMI). Ceritanya diceritakan secara beruntutan ( alur maju), dijelaskan setiap kejadian yang penting dengan detail, tulisan terbentuk bukan hanya dari pemikiran penulis namun juga sumber lain yang membantu, membuat pembaca bisa mengerti alur pembentukan IPMI sampai berakhirnya IPMI sampai akhirnya terbentuknya PPMI.

Kekurangan dari bab ini adalah kurang spesifiknya kejadian pembentukan IPMI dan tokoh yang berperan dalam proses terbentunya IPMI.

Bab 2

Jalan berliku menuju wadah baru yaitu PPMI (Perhimpunan Penerbitan Mahasiswa Indonesia) yang menggunakan kata Penerbitan bukannya Pers untuk bisa mengikuti apa yang diinginkan pemerintah saat itu tentang dilarangnya pers mahasiswa yang mengankat “Politik Kritis”, pada bab ini cukup membawa pembaca bisa merasakan kejadian pada masa itu yang sangat sulit bagi perkembangan pers mahasiswa indonesia.

Bab 3

Pada bab ini adalah masa perjuangan PPMI mulai berani dalam perjuangannya bebas dari jerat pemerintah dengan bukti diubahnya Perhimpunan Penerbitan Mahasiswa Indonesia menjadi Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia dan menolak adanya STT yang menjadi penghalang pers mahasiswa untuk berfikir kritis pada pemerintah. Di bab ini juga diceritakan beberapa kasus pembredelan terhadap majalah dari beberapa pers perguruan tinggi. namun pada akhir rezim orde baru PPMI masih mengangkat wacana kritis. Pada bab ini diceritakan sangat baik dengan mengangkat masalah pembredelan pada beberapa pers di perguruan tinggi.

Bab 4

Cerita pada bab ini dijelaskan tentang perjuangan PPMI setelah masa orde baru berakhir, dimana pers mahasiswa tidak lagi berjuang melawan kekuasaan pemerintah,namun ditemui banyak masalah yang berasal dari internal PPMI mulai dari sruktur organisasi, kepengurusan, keanggotaan serta markas pusat PPMI. Pada bab ini sangat lengkap masalah masalah pada masa transisi yang membuat pembaca mampu tau persoalan yang dihadapi PPMI walaupun secara keseluruhan pers mahasiswa sudah bebas dari rezim otoriter. Namun urutan sub bab yang ada masih sulit dipahami dalam waktu terjadinya karena tidak teratur waktu berlangsungnya tiap-tiap permasalahan.

Bab 5

Pada bab ini diceritakan PPMI mulai berbenah diri terhadap apa yang terjadi di internal PPMI, mulai dari sruktur organisasi maupun keanggotaan, namun pada proses tersebut juga tidak lepas dari persoalan yang ada. Bab ini merupakan bab terakhir, namun pada bab akhir ini masih kurang greget untuk jadi ending dari buku ini. Pembaca menjadi agak bosan karena banyak cerita yang diulang untuk mengisi bab ini walaupun dalam konteks berbeda.

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik, banyak pelajaran yang dapat dijadikan pembakar semangat dalam berjuang di pers mahasiswa, alur yang digunakan merupakan alur campuran mengingat buku ini diceritakan berdasarkan sub bab yang berbeda kontennya. Pada akhir dari buku dibuat tidak sampai akhir yang bagus atau diceritakan nanggung, menurut saya ini akan menimbulkan pembaca untuk memiliki rasa cinta pada pers mahasiswa dan membuat pembaca termotivasi untuk berusaha mengisi kelanjutan perjuangan PPMI dimasa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *