Jawani dalam berbahasa

Tak akan berbeda obrolannya jika kita berpindah tempat ngopi dari bersama Cak Nun menjadi ngopi bersama Ki Herman Sinung Janutama. Peneliti manuscript Jawa itu juga memuji-muji keindahan bahasa Jawa. Ia bahkan mengklaim bahwa Jawa adalah rumahnya kiasan. Untuk membuktikan hal tersebut Ki Herman menggunakan salah satu istilah yang didapat dari operasi-operasi dalam paramasastra atau tata bahasa Jawa dan memiliki makna kias. Istilah tesebut adalah gedhang yang bisa bermakna pisang atau digeget ben padhang yang merupakan salah satu istilah dari hasil operasi jarwodhoso ( istilah harus didorong ke arah langit atau bermakna mistis), dimana digeget ben padhang bermakna bahwa sebuah permasalahan harus disimpan dan dipikirkan masak- masak sebelum akhirnya diutarakan. Lalu Kenapa Harus Jawani?

Lalu kenapa harus jawani? Kalau kita sudah ingat betapa bijaksana leluhur kita dalam berbahasa tentu kita sebagai mahasiswa yang memiliki intelektual lebih dan sebagai orang Jawa atau orang yang paham sungguh tak patut untuk bersikap arbitrer atau manasuka dalam berbahasa. Romo Setyo Wibowo mengambil contoh kecil saja dari sikap manasuka kita dalam berbahasa. Kebanyakan dari kita menyebut filsuf Yunani yang terkenal dengan Republiknya itu menggunakan sebutan Plato dan bukan Platon. Hal ini terjadi karena kita latah mengikuti istilah yang digunakan oleh Inggris dan Belanda, padahal di Jerman, Perancis, Italia dan Yunani sendiri Plato lebih dikenal dengan Platon.

Ki Herman Sinung Janutama juga kesal dengan istilah-istilah Jawa yang sekarang dimana cenderung sokor dan mengutamakan otak-atik matuk, maknanya pun tak lagi disentuhkan ke langit atau mistisisme jawa. Misalnya istilah gedhang tadi, kini tidak lagi digeget ben padhang, namun sudah berganti menjadi digeget bar madhang atau pisang diartikan sebagai makanan pencuci mulut. Meski hal tersebut benar bahwa pisang adalah buah yang dapat digunakan sebagai makanan pencuci mulut tapi maknanya tidak lagi menyentuh langit. Orang Jawa sendiri juga sudah lupa bahwa kata-kata sederhana seperti garwo itu sebenarnya juga jarwodhoso dan memiliki makna langit yang berupa sigaring nyowo, suami atau istri atau pasangan kita adalah belahan hati, yang mana kita tidak bisa hidup tanpa mereka.

Dengan mengenal realitas- realitas berbahasa seperti di atas tentu kita kian bersikap berhati-hati dalam menggunakan bahasa. Sikap berhati-hati disini bukan berarti kita harus diam melainkan berusaha lebih giat lagi dalam mengkaji berbagai istilah yang akan kita gunakan. Tidak perlu dengan cara yang susah, cukup hanya dengan memeriksa ulang istilah yang akan kita gunakan tersebut pada kamus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *