Mencari Ilham dibalik pendidikan

Mengembangkan pemikiran merupakan salah satu hak seorang mahasiswa, dan kampus merupakan salah satu stimulus penunjang utama. Akan tetapi di era modernisasi, mahasiswa yang berpikir kritis sangatlah sedikit. Disebabkan oleh kebutuhan hidup diera persaingan, sehingga mahasiswa memilih sukses dalam kemampuan ekonomi. Selain itu sarana prasarana yang ada dikampus belum tentu memuaskan mahasiswa dalam mengembangkan intelektual untuk bisa berpikir kritis.

Tim Sketsa mencari kebenaran hal tersebut, dengan menjadikan mahasiswa sebagai sample penggalian data. Karena hanya mengambil data 10%, diambil dari banyaknya mahasiswa di kampus STKIP PGRI Tulungagung. Dari angket yang disebar didapatkan hasil yang memuaskan. Dengan peyebaran secara merata, dari berbagai prodi yang ada yang ada dikampus. Kemudian didapatkan hasil berdasarkan 7 pertanyaan yang diajukan.

Dari 7 pertanyaan yang telah disediakan, soal pertama terkait tentang membaca. Kebanyakan memilih cukup suka membaca, terbukti dari 80% memilih cukup suka. 15% memilih sangat suka membaca. Sedangkan yang memilih tidak suka membaca 5%, tidak suka sama sekali hanya satu orang responden saja. Dari situ dapat disimpulkan minat mahasiswa terhadap kegiatan baca cukup tinggi berdasarkan data yang diajukan.

Dari soal ke 2 hampir sama dengan yang pertama, yang menjawab tidak suka 10% dari data yang ada. Dan yang sangat suka 20%, adapun yang cukup suka 69% dari data yang tertulis. Dan ada pula yang tidak suka sama sekali 1%. Soal ini berkaitan dengan minat mahasiswa terhadap ilmu teori. Hampir semua mahasiswa memiliki minat, apalagi terkait meta konsep. Pengembangan ilmu kuliahnya dianggap sudah sukses bagi dirinya sendiri. Namun terdapat 10% tidak suka, menunjukan masih ada yang tidak suka pengembangan pemikiran ilmu teori. Mahasiswa seharusnya lebih menyukai ilmu teori, lalu mengembangkan dalam ilmu praktik. Atau dapat  menciptakan teori yang baru untuk penelitian akhir seperti skripsi.

Dari soal ke 3 yang tidak suka sebesar 2%, sedangkan cukup suka 80% serta yang sangat suka ada 18%. Soal yang ketiga ini terkait pertanyaan tentang seberapa suka berdiskusi, terkait data tersebut mahasiswa cukup meyukai diskusi. Namun kegiatan diskusi yang ada di kampus sangatlah jarang. Kegiatan diskusi kebanyakan dilakukan dikelas ketika ada tugas dari dosen. Alangkah lebih baik minat yang tinggi tersebut diberikan wadah sebuah forum diskusi didalam kampus.

Dari soal ke 4 sebanyak 12% yang tidak puas, yang cukup puas sebanyak 75%, serta sangat puas 15 % dari data yang telah diambil. Terdepat 3% mengaku tidak puas, yang ke-empat ini terkait dengan fasilitas buku yang ada diperpustakaan kampus. Disini buku yang ada di perpustakan sudah memuaskan bagi beberapa mahasiswa. Namun ada juga yang belum puas, ini menunjukan masih ada kekurangan yang dirasakan oleh mahasiswa. Hal tersebut menjadi alarm untuk memperbanyak, atau memperbaiki buku yang lama dan menambah buku yang baru.

Soal ke 5 terdapat 25% sangat sering, cukup sering 60% dan yang tidak sering 15% dari data yang ada. Soal tersebut terkait seberapa sering dosen melaksanakan diskusi kelompok saat perkulihan. Dosen cukup sering melakukan diskusi, namun masih ada yang kurang. sedikit dosen hanya berbicara di depan kelas saja tanpa melakukan diskusi. Didalam perkulihaan seharusnya seorang mahasiswa lebih aktif, untuk mengembangkan intelektualnya. Seorang dosen memfasilitasi mana yang harus dipelajari disetiap perkulihan.

Soal ke 6 dari data yang telah diambil, terdapat 29% tidak suka, cukup suka 47% serta 24% sangat suka dari data yang telah dijawab. Terkait suka atau tidak berorganisasi, disini menunjukan cukup besar yang suka berorganisasi, namun ada juga yang tidak suka. Disini kelihatan mana yang aktif serta tidak. Dari data tersebut menunjukan mahasiswa cukup banyak yang memiliki minat berorganisasi.

Soal yang terakhir 6% sangat puas, cukup puas 85% dan yang terakhir 8% tidak puas. Dari data tersebut, kegiatan yang ada dikampus sudah cukup memuaskan bagi mahasiswa yang ada. Ada juga 1% yang sangat tidak puas. Jadi kegiatan yang ada dikampus selain jam perkulihan cukup memuaskan bagi mahasiswa, namun kenapa yang mengikuti ormawa tidak banyak ?

Dari data yang telah terambil telah membuktikan bahwa semua telah mengembangkan intelektualnya sebagai mahasiswa. Namun ada juga yang malas, hal ini ditunjukan hanya sedikit kemunculan mahasiswa kritis yang ada dikampus. Karena disebabkan kebutuhan individual yang harus dipenuhi. Dan juga banyak yang memiliki pekerjaan, hal ini sudah umum tapi setidaknya dirinya sadar dengan identitasnya sebagai mahasiswa. Minat mahasiswa terkait membaca, mengkaji sebuah teori, berdiskusi, berorganisasi sudah cukup baik.

Faktanya, di kampus hanya sekitar 20% mahasiswa yang aktif mengikuti ormawa atau kegiatan yang ada di kampus. Meskipun kegiatan yang ada dikampus memiliki dedikasi serta daya tarik yang tinggi, tidak semua memiliki ketertarikan. Bahkan fasilitas kampus telah memuaskan namun ada pula beberapa mahasiswa yang tidak penah mengunjungi perpustakaan kampus. Karena ada dua responden yang menjawab seperti demikian.

Berdiskusi menjadi pemandangan mewah di kalangan mahasiswa, mengkaji teori hanya menjadi kewajiban begitu mendekati skripsi. Membaca menjadi rutinitas yang langka, apa gunanya fasilitas yang ada jika tak pernah digunakan ? Daya kritis yang muncul dikampus sangatlah sedikit, meski setiap mahasiswa memiliki pemikiran- pemikiran. Mahasiswa, salah satu kader terbesar untuk peradaban masa depan. munculkan daya kritis dari sekarang, untuk menunjukan tidak gagalnya pengkaderan mahasiswa kritis dan simpatik dibawah naungan kampus pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *