Menggali Sejarah, Menemukan Identitas Unit Pers Mahasiswa Skets@_Kampus

Menggali Sejarah, Menemukan Identitas

Unit Pers Mahasiswa Skets@_Kampus

 

~ Pengetahuan kita atas sejarah berarti pencarian kita atas diri kita sendiri ~ Emha Ainun Nadjib

Tugas besar setiap manusia adalah menemukan identitas atau siapa jati dirinya karena hanya dengan menemukannya manusia dapat menguasai segala hal. Lantas bagaimanakah cara kita dapat menemukan identitas atau siapa jati diri kita. Iya, senada dengan kutipan pesan dari Emha Ainun Nadjib di atas bahwa salah satu cara untuk menemukan identitas atau jati diri adalah dengan memiliki pengetahuan atas sejarah.

Pengetahuan atas sejarah atau proses menggali sejarah tidak hanya penting bagi setiap individu atas dirinya, melainkan juga sangat penting bagi setiap mahasiswa anggota atau calon anggota Unit Pers Mahasiswa Skets@_Kampus di STKIP PGRI Tulungagung. Resultan-resultan yang dihasilkan dari proses menggali sejarah dapat digunakan untuk menentukan apa yang hendak kita lakukan di masa depan. Bahkan salah satu falsafah jawa juga mengingatkan “empan papan” dimana sikap dan tindakan yang kita ambil haruslah berdasarkan banyak pertimbangan baik masa lampau maupun masa sekarang. Oleh karena itulah, redaksi majalah Skets@ edisi ini mengulas kembali dinamika sejarah pers mahasiswa secara umum hingga lahirnyaUPM Skets@_Kampus dan hal ini diharapkan memberi manfaat kepada pembaca semuasehingga mampu membawa UPM Skets@_Kampus pada masa kejayaannya dengan identitas yang khas sebagai ormawa (oraganisasi mahasiswa) di bidang pers atau kejurnalistikan.

 

Dinamika Pers Mahasiswa

Dalam dinamikanya pers mahasiswa menjadi alat perjuangan massa yang vital. Bahkan, menurut presidium nasional PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia) periode 2000-2001, Agus Gussan Susantoro, dalam beberapa era penting pers mahasiswa lebih berani daripada pers umum, karena pers umum hanya mencover berita-berita yang bersifat informatif yang dapat di komersilkan, namun pers mahasiswa mampu mengkaji permasalahan sosial yang diberitakan dengan analisis keilmuan dan kemasyarakatan secara kritis akademis serta obyektif.Inilah perbedaan pers mahasiswa dengan pers secara umum dimana pers mahasiswa yang merupakan gabungan dari kata “pers” dan “mahasiswa” lebih menekankan identitas dirinya terhadap fungsi mahasiswa itu sendiri sebagai intelektual yang kritis, obyektif, terbuka dan etis.

Sungguh sangat disayangkan keadaan pers mahasiswa pada masa kini. Meski telah mendapat banyak pujian ataskejayaannya di masa lampau, kini pers mahasiswa seperti kehilangan tajinya. Pers mahasiswa hari demi hari kian sepi dari peminat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti minimnya dana operasional untuk penerbitan media, menurunya budaya literasi mahasiswa, dan sistem pengkaderan yang kurang memunculkan insting kejurnalistikan. Mahasiswa semakin hedonis dan melupakan pengembangan budaya literasi. Minat membaca dan menulis menurun dikarenakan gaya hidup mahasiswa yang konsumtif dan cenderung meniru budaya kaum elit, shoping dan traveling. Padahal dalam kehidupan pers dan kejurnalistikan modal utamanya adalah kegemaran dalam dunia membaca dan menulis.

 

Kepemilikan Organ Pers Mahasiswa

Meskipun pers mahasiswa selalu mengalami pasang dan surut, kepemilikan organ pers mahasiswa tetaplah suatu kebutuhan bagi setiap perguruan tinggi.Bahkan, kualitas sebuah organ pers mahasiswa di dalam suatu kampus adalah indikator yang digunakan untuk menentukan seberapa intelek kehidupan mahasiswa di dalam kampus tersebut. Oleh karena alasan tersebut,maka pada tanggal 21 Agustus 2008, tiga orang mahasiswa yang masing-masing bernama Uswatun Khasanah sebagai menteri infokom kabinet BEM STKIP PGRI Tulungagung 2008/2009, Ratih Puspasari sebagai menteri pemberdayaan mahasiswa kabinet BEM STKIP PGRI Tulungagung 2008/2009, dan Dewi Yuliana menteri infokom kabinet BEM STKIP PGRI Tulungagung 2009/2010 mempelopori lahirnya sebuah organ pers mahasiswa di bawah naungan kementerian infokom bernama Unit Pers Mahasiswa Skets@_Kampus.

UPM Skets@_Kampus sebagai organ yang baru dilahirkan terus-menerus digembleng oleh kementerian infokom agar dapat melaksanakan tugas kejurnalistikan dengan baik. Beberapa pengupayaan pengadaan inventaris dan latihan digiatkan untuk meningkatkan kinerja para anggota unit pers. Pelatihan tersebut diantaranya berupa PLASTIK (Pelatihan Jusrnalistik; dasar dan lanjutan), Pelatihan Desain Grafis, Pelatihan Fotografer, dan Pelatihan Infokom. Beberapa media juga diaktifkan kembali diantaranya KABARET (Kabar Baru Ter-Up to date), Mading, Majalah, dan Buletin. Dan terakhir adalah melakasanakan kegiatan keorganisasian seperti kongres, musyawarah tahunan, dan reorganisasi yang menandakan masih bernafasnya organ pers tersebut.

Kemudian dalam perjalanannya UPM Skets@_Kampus sering mengalami ke-vacum-an. Hal ini dikarenakan kedudukan UPM Skets@_Kampus yang berada di bawah naungan kementerian infokom. Salah satu kebijakan dalam GBHO (Garis Besar Haluan Organisasi) menyebutkan bahwa susunan kementerian dalam kabinet merupakan hak prerogatif presiden BEM, maka keberadaan infokom sebagai sebuah kementerian tidak mesti dimunculkan dalam setiap periode kepemimpinan. Pelaksanaan kebijakaan tersebut lah yang mempengaruhi berfungsi atau tidak berfungsinya UPM Skets@_Kampus dan memicu munculnya berbagai perdebatan hingga pada akhirnya diputuskan bahwa UPM Skets@_Kampus dirubah kedudukannya sebagai unit kegiatan mahasiswa di bawah kementerian UKM dengan keistimewaannya sebagai unit pers.

 

Teruji Eksistensinya

Kehidupan berorganisasi yang dinamis telah mengantarkan UPM Skets@_Kampus menjadi organ yang teruji eksistensinya. Kini UPM Skets@_Kampus masih terus bertahan meski menghadapi berbagai macam tantangan seperti redupnya dunia tulis-menulis di kalangan mahasiswa STKIP PGRI Tulungagung. Bahkan untuk mengkaji dan menulis karya ilmiah saja para mahasiswa harus lebih dahulu diimingi-imingi hadiah berupa beasiswa. Fakta ini sungguh mengagetkan jika mengingat kemampuan menulis juga merupakan hal dasar yang penting bagi mahasiswa untuk pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.

Redupnya dunia tulis-menulis dan rendahnya kemampuan mahasiswa dalam menyulap idea kedalam paragraf juga turut mempengaruhi kuantitas dan kualitas anggota yang setiap tahunnya masuk ke UPM Skets@_Kampus. Hal ini sangat menyulitkan bagi keberlangsungan UPM Skets@_Kampus, apalagi jika mengingat minimnya anggaran dana untuk melaksanakan pelatihan- pelatihan. Sering-sering mahasiswa harus mengeluarkan dana pribadi untuk memperkaya pengetahuannya dalam tulis-menulis dan kejurnalistikkan. Selain itu, tingginya biaya cetak dan masih kurang tersentuhnya media elektronik menjadikan proses produksi media-media terhambat. Padahal dikenal dan dikonsumsinya media yang diproduksi adalah ciri utama bahwa organ pers tersebut masih eksis.

Menghadapi tantangan yang begitu peliknya UPM Skets@_Kampus selalu mengingat kisah inspiratif dari Noriyu seorang penulis dan anggota legislatif yang mana ketika kuliah juga menghidupi organ pers. Dalam kampanyenya di Blitar beberapa tahun yang lalu Noriyu menyatakan bahwa untuk menjaga berlangsungnya kehidupan organ pers tersebut dia menyulap kantor redaksi menjadi warung kopi. Profit yang dihasilkan dari penjualan warung kopi tersebut digunakan untuk memproduksi media-media. Harus diakui jika anggaran dana adalah nyawa bagi keberlangsungan suatu organ pers. Banyak media-media besar juga gulung tikar karena profit yang didapatkan tidak sesuai dengan modal untuk produksi suatu media. Salam Pers Mahasiswa !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *