PUTERA HARIMAU

PUTERA HARIMAU

Nafasnya berebut setapak jalan,
terengah-engah rebah selimuti tanah
Liurnya mengering di ujung taring,
matanya patah, otot-ototnya mengancam akan pecah
jika ia masih mengejar rusa berkaki langit
yang berlarian melompati bukit-bukit

Harimau muda itu kembali menuju akasia,
mendapati ibunya asik tiduran di tepi usia
Lalu sayup angin mengetuk pintu mata,
yang tengah asik mimpikan suaminya
Di seberang mereka, kerumunan rusa gemuk
riuh tertawa terbatuk-batuk
Kasak-kusuk tiada kikuk, mengejek dua harimau payah
tiada ayah

Melihat mata puteranya diacak-acak galau,
terobrak-abrik sebilah risau,
tiada gincu darah di bibirnya,
tak ada amis getah dari mulutnya,
ia lalu berkata :

“Nak, darah yang mengalir lebih kental daripada air,
harimau rimba tak kan lahirkan kucing anggora,
makanlah waktu kenyangkan usiamu !
Percayalah, rumput yang engkau makan akan meminta hari pembalasan.
Kelak, rusa-rusa itu akan terbujur kaku di ujung taringmu .”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *