SI TUA MBAH SULASTRI

SI TUA MBAH SULASTRI

Kulit dan otot yang kendur, pandangan mulai kabur, tubuh kurus tirus seperti sapu lidi. Mbah sulastri, si tua miskin penjual lontong sayur di depan stasion__ Sudah puluhan tahun ia berjualan lontong sayur di depan stasion, semenjak suaminya sebagai tulang punggung keluarga lumpuh akibat penyakit stoke yang mengharuskan suaminya kini menjalani sisa hidupnya hanya sebagai seonggok daging yang terkapar di kamar seperti manusia tanpa jiwa.
Memang sudah puluhan tahun mbah sulastri berjualan lontong sayur, Tetapi setiap hari dengan penghasilan yang tidak pasti. Untuk bertahan hidup satu haripun terkadang selepas berjualan ia harus menjual tenaganya yang sudah ringkih untuk membantu bersih-bersih rumah dan pekarangan tetanggannya. Upah yang ia dapat bukan berupa uang, melaikan daun pisang bakal pembungkus beras untuk di jadikan lontong dan sepiring nasi berserta lauk-pauk seadanya.
Selepas selesai pekerjaannya, ia bergegas pulang sampainya di rumah, rumah yang tidak lazim untuk dihuni, rumah yang sangat sudah doyong menunggu saatnya ambruk, mbah sulastri membagikan sepiring nasi dan lauk-pauk menjadi dua, untuk suami dan cucunya, mbah sulastri sendiri hanya makan sisa suaminya jika tidak habis.
Konon kabarnya, mbah Sulastri mempunyai satu cucu yang ditinggalkan anak semata wayang dan menantunya pergi merantau kesumtra. Sepuluh tahun sudah lamanya, semenjak desi cucunya berumur satu tahun, namun hingga sekarang tanpa kabar maupun berita, masih hidup tidaknya.
Setiap menjelang pagi, tepatnya selepas adzan subuh, tubuh kecil mbah sulastri di tusuki hawa dingin yang dibawa angin melewati sela-sela lubang rumahnya, rumah yang hanya terbuat dari anyaman bambu serta atap rumah juga terbuat dari anyaman ilalang, mbah sulastri mempersiapkan lontong sayur dagangngannya. Terkadang jika angin kencang datang, menerobos lubang-lubang rumah yang besar terasa menusuk hingga ke dalam tulang.
Sebelum berangat berjualan mbah sulastri selalu mempersiapkan baju dan peralatan sekolah cucunya. Maklum mbah sulastri orang yang tidak punya, baju sekolah cucunya sudah lusuh berwarna seperti kulit telur asin, juga penuh dengan beberapa jahitan. Sepatu sekolah cucunya pun juga bolong dan kekecilan.
Terkadang desi, cucunya merengek sembari menangis menahan rasa sesak dan sakit saat memakainya, Terlebih sakitnya ketika teman-teman sekolahnya memandang rendah sebelah mata, lalu menghujat dan menghina semua kekurangannya.
Tetapi karena keseringan dianggap rendah dan kekurangan, desi merasa sudah terbiasa dengan semua itu. Dikala ada yang menghina desi terkadang teringat wejangan neneknya setiap menjelang berangkat ke sekolah.
”Sabar ya des semua pasti ada hikmahnya, hidup ini adalah karunia dari sang pencipta, kita sebagai makhluknya cukup menjalani dengan ihklas, sabar, dan menerima. Meskipun dari sebagaian orang kita dianggap orang hina dan tak punya, yang terpenting kita sudah berusaha bertahan hidup dan berdoa pada sang pencipta, tanpa harus meminta-minta kepada mereka.”
Selepas cucunya berangkat ke sekolah. Seperti biasanya mbah Sulastri berangkat berjualan lontong sayur di depan stasion. Dengan sabar mbah sulastri melayani pembeli yang memang terkadang ada salah satu pembeli menghina lontong sayur dagangannya. “Katanya! tak lazim untuk di konsumsi.”
Setelah terik matahari di atas ubun-ubun, mbah sulastri siap hendak mau pulang ke rumah. Tiba-tiba ada salah satu seorang tetangganya yang baru saja keluar dari stsion ingin bembeli lontong sayurnya.
“Mbah tunggu! Saya mau beli lontong sayurnya?”
“O iya! Saut mbah sulastri.”
“Di bungkus atau dimakan disini?”
“Di makan disini saja mbah!”
Saat mbah Sulastri melayaninya. Datang seorang pengemis wanita parubaya dengan menggendong seorang anak kecil menuju ke mbah sulastri. Lalu pengemis itu berkata sembari terbata-bata dengan raup wajah begitu pucat dengan tubuh gemetaran. “Mbah minta sedekahnya? Kasianilah kami, sudah beberapa hari ini kami belum makan.”
Dengan mata berbinar-binar menatap pengemis wanita parubaya itu, mbah sulastri lalu dengan sepontan mengambil uang yang ada dalam centingnya dan juga memberikan dua bungkus lontong sayur untuknya. Sontak tetangganya itu tercenggang melihat mbah sulastri memberikan uang dan dua bungkus lontong sayur kepada pengemis itu.
Setelah pengemis itu berterimakasi sambil meneteskan air mata yang hampir tak kunjung berhenti di hadapan mbah sulastri, pengemis itu lalu pergi. Tetangganya memberanikan diri, di kumpulkannya nyali lalu bertanya kepada mbah sulastri.
“Mbah kenapa kamu memberikan uang dan lontong sayur kepada pengemis tadi!” padahal mbah sulastri sendiri sangat kekurangan?”
“Memang saya sendiri sangat kekurangan! tetapi bukan patokan kekurangan saya untuk tidak berbagi, apalagi kepadanya yang sangat lebih membutuhkan.”
“Mbah bagaimana sih..! Kok bisa-bisanya berbagi pada pengemis tadi. Jika mbah sulastri sendiri lebih membutukannya.”
“Tenang saja! Meskipun saya membagikan sebagian apa yang saya punya, rizki saya tidak akan berkurang, malah akan bertambah dan berganti sebuah kenikmatan!”
“Lo kok bisa begitu mbah! Padahal mbah sulastri sendiri hari ini belum tentu bisa makan, dan memberikan makanan kepada cucu dan suami, bahkan modal buat berjualan lontong sayur besok belum tentu ada. Bantah tetangganya”
Mbah Sulastri menjawab.
“Kebanyak orang menganggap rizki itu berhubungan dengan uang, terlebihnya berhubungan dengan materi. Tetapi bagi saya, rizki itu adalah sebuah nikmat yang Tuhan berikan kepada saya dan keluarga.”
“Saya memberikan sebagian uang hasil berjualan dan dua bungkus lontong sayur padanya, saya merasa Tuhan menambah rizki dan nikmat kepada saya dengan turut merasakan apa yang pengemis itu rasakan saat menerima pemberian saya. Mungkin rizki dan nikmat itu tidak biasa diutarakan lewat lisan, karena sungguh nikmat rahmat dan rizki pemberian-Nya.”
“Dari sebagian orang yang berlimbah ruwah harta kekayaannya, mereka tidak bisa merasakan sebuah kenikmat yang langgeng, di karnakan mereka mengingkari rizki pemberian Nya, dengan tidak mensyukurinya, terus-menerus mengumpulkan pundi-pundi harta kekayaannya tanpa menyadari sebagian hartanya adalah untuk kaum fakir. Juga bayak dari sebagian orang berlimpah ruwah kekayaannya tetapi mereka tidak bisa merasakan, sebuah kedaimaian serta ketenagan dalam hati dan pikirannya.”
“Dan bagi saya keadaan susah maupun senang, sedikitnya penghasilan, petaka dan sengsara adalah sebuah kenikmat dan rizki yang sang pencipta berikan kepada saya, untuk lebih dalam mengenal dan mendekatkan diri pada-Nya, dan mensyukuri apa yang Tuhan berikan tanpa harus mengeluh dan merutuki nasib yang buruk.”
“Menurut saya ketidak mampuan dan kekurangan bukan alasan yang tepat untuk tidak mengharuskan seseorang beramal dan berbagi!”
Setelah mendengar mbah sulastri menjawab pertanyaannya. Tetangga itu tak ubahnya sebuah patung yang sesekali menjatuhkan kepalanya lalu menatapi tanah dan terkadang menggeleng-gelengkan kepalanya. Tetangga itu merasa rendah dan hina dihadapan mbah sulastri, meskipun tetangga itu lebih segala-galanya dari pada mbah Sulastri.
Memang dari sebagian tetangga dan masyarakat sekitar, bayak menganggap mbah Sulastri orang sengsara yang sangat kekurangan. Tetapi, bagi mbah sulastri dari kesengsaraan dan kekuranganya ia lebih bisa menghargai kehidupan dan mengenal lebih dalam Tuhannya di bandingkan orang yang kecupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *