Tumpak Celeng, Surga Yang Terasingkan

            Tulungagung memiliki pesona alam yang potensial untuk dijadikan wisata alam. Salah satunya Gunung Budheg, Gunung yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun manca negara. Satu wilayah dengan Gunung Budheg, terdapat tempat indah yang dinamakan Tumpak Celeng. Tempat ini dapat dikatakan sebagai daerah pedalaman, mengingat jumlah penduduk yang sedikit dan akses jalan yang sulit. Tumpak Celeng menyuguhkan pesona alam pegunungan dan pedesaan yang langka dan masih asri.

Mbah Sadji selaku penduduk setempat memaparkan, “Tumpak

Celeng memiliki sejarah yang unik. Tumpak Celeng berasal dari kata celengan yang bermakna pasingitan yang artinya menyimpan atau delikan. Jadi tempat ini dahulunya digunakan untuk persembunyian pertapaan raja dari kediri, ketika diserang dari brangwetan. Hal tersebut berhubungan dengan prasasti lawadan Singosari yang di sembuyikan oleh masyarakat.” Hingga saat ini masyarakat disana mengenal daerah ini dengan sebutan Tumpak Celeng yang dulunya dianggap tempat angker. Namun kini oleh Pokdarwis (kelompok sadar wisata) mulai dikenalkan sebagai tempat wisata alam.

Tumpak Celeng bertempat di dukuh Bangak, kecamatan Campurdarat, kabupaten Tulungagung. Sungguh miris, penduduknya hanya mendapatkan fasilitas dan kebutuhan hidup yang serba terbatas. Untuk penerangan, warga hanya memanfaatkan satu meteran listrik untuk digunakan beberapa kepala keluarga. Karena belum tersentuh bantuan pemerintah desa maupun pemerintah pusat, akses menuju pemukiman sangat sulit. Apalagi saat musim hujan, jalanan becek dan licin.

Anak-anak yang tinggal dikawasan tumpak celeng harus berangkat lebih pagi untuk bersekolah. Mengingat jalan yang tersedia sangat minim dari kata layak dan tempat sekolah yang cukup jauh. Jalan yang tersedia sendiri dibuat oleh warga setempat agar akses ke pemukiman warga dibawah lebih mudah. Dibalik itu, mereka masih bersyukur karena tuhan masih memberi mereka tempat berteduh di dunia-nya.

Dibalik minimnya fasilitas, Tumpak Celeng menyuguhkan pemandangan memukau. Dari puncaknya, terdapat angkringan  bambu yang dibuat oleh warga sekitar. Angkringan yang tidak begitu tinggu itu bisa digunakan untuk beristirahat dan menikmati pemandangan perbukitan dan persawahan yang hijau. Tumpak Celeng cukup bagus dijadikan tempat berkemah. Selain tidak perlu mengeluarkan biaya, udara pegunungan yang segar, suasana hutan yang masih dekat dengan pemukiman warga dirasa cukup aman.

Masih di daerah sana, hanya butuh berjalan kaki selama lima menit dengan jalan setapak, terdapat air terjun yang dikenal dengan grojokan kali wetan. Tidak begitu tinggi, segar airnya, sehingga sangat sayang jika dilewatkan ketika berkunjung ke Tumpak Celeng. Grojokan kali wetan sendiri dianfaatkan oleh warga sebagai sumber air minum. Apabila ingin mengupas sejarah mengenai tumpak celeng, ada mbah sadji yang terbuka untuk bercerita mengenai sejarah tumpak celeng.

Warga sekitar Tumpak Celeng sangat ramah terhadap pengunjung. Bagi mereka pengunjung adalah saudara jauh yang mau mengunjunginya dengan senang hati. Namun karena sudah dianggap saudara, pengunjung sudah selayaknya mematuhi peraturan yang dibuat warga dan tidak membuang sampah sembarangan.

“Selama ini masyarakat disini merasa terabaikan, baik dari sisi perencanaan, perhatian, dari pemerintah desa atau pemerintah daerah, “kata agus selaku pokdarwis gunung budheg.” Untuk itu mari kita bantu saudara kita yang masih belum mendapat bantuan agar warga bisa mendapatkan fasilitas yang memadai seperti fasilitas yang ada di kampung kampung, tegas agus.

Tumpak Celeng tak perlu diragukan lagi keindahan dan keasrian-nya. Namun dari sisi lain, kita sebagai manusia perlu memperhatikan sosio-kultural yang ada disana. Meski jumlah penduduk yang menetap disana hanya beberapa KK, mereka memiliki hak yang sama. Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya sesuai dengan pasal 28A yang termahtub dalam UUD 1945.

Agus berpendapat, “para mahasiswa di harapkan untuk bisa mengangkat tema dari daerah terpencil di tulungagung. Agar pemerintah daerah maupun pusat mau memperhatikan sosio-kultural Tumpak Celeng. Dan aksi ini, tidak perlu  harus dengan biaya, tetapi dengan semangat kebersamaan dan mengkomunikasikan lintas organisasi kemahasiswaan. Itu merupakan energi positif yang harganya lebih dari sebuah profit.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *