Bunga dari Mimpi

karya : Aprilia

Muka kusut dan rambut acak-acakan, seakan menggambarkan tak bergunanya diriku. Sembari aku bangkit dari tempat tidur yang sama berantakannya denganku. Aku beranjak keluar menatap langit yang tampak biru pekat. Menatapnya seolah baru terbangun dari mimpi panjang. Atau mungkin aku berdiri disini karena masih terpengaruh mimpiku tadi?

“Kamu nglindur Lang,” ucap seorang tetangga yang melintas didepanku.”Haa,” ekspresiku datar dan merasa linglung. “ Pantas,orang tidur seminggu baru bangun ya begini jadinya. Mau jadi apa masa depan bangsa kalau penerusnya seperti kamu,” ia menatapku aneh lalu beranjak pergi. Dan aku tahu pasti apa yang ada di benak orang itu, mungkin aku bagai sampah yang tak pernah menghargai usaha orang tua yang membiayaiku sekolah hingga kuliah. Namun pekerjaanku hanya tidur saja. Aku melangkah ke dalam rumah lagi.

Terduduk lunglai pada dampar yang jauh lebih tua dari usiaku, dampar itu menghitam dan penuh debu namun tetap masih kuat. “Entah apa yang selama ini aku dapatkan, sampai-sampai aku tak tahu. Membanggakan identitasku sebagai seorang mahasiswa namun hanya untuk memikat gadis-gadis yang kutemui. Mereka percaya saja jika masa depan seorang mahasiswa pasti cerah namun sungguh aku tak tahu apa-apa. Dengan bangganya nongkrong dengan teman-teman yang datang ketika ujian tiba, supaya dibilang apa? Anak gaul yang pasti.

Masih terpikirkan bagaimana mimpiku tadi. Mimpi itu, dalam sebuah gelap aku melihat seorang kakek tua, entah itu siapa namun sepertinya orang itu tak asing bagiku. Di mimpi itu, aku menitikkan air mata, hatiku tersayat dengan celotehnya. Dia berkata tentang bagaimana sebuah pengorbanan orang tua. Di akhir mimpiku, dengan mata sayu namun masih terlihat aura ketegasanya. Dia berkata “kau akan hancur dan menyesal,” kemudian sosok itu menghilang bersama terbukanya mataku. Sesosok itu mengingatkanku pada kakekku yang telah lama tiada. Namun melihat sosok yang mirip denganya dalam sebuah mimpi dan berbicara penuh kebencian padaku, aku merasa terpukul dan sangat buruk.

Aku duduk termenung di kantin kampus, memandang orang yang berlalu lalang, ada yang tergesa-gesa masuk kelas unuk mengikui perkuliahan, ada yang sibuk membaca buku tebal di tanganya, ada juga mereka yang membawa mobil memakai topi yang dibalik, celana bolong- bolong dan disambut seorang wanita.
“Lang, ke tempat balapan motor yuk. Sekalian ajak Diana, sepertinya dia tertarik sama kamu,” David mendekat ke tempat dudukku.
“ Apa ?” pikiranku masih entah kemana.
“Woy, kamu baru kesambet atau kenapa. Ikut balapan yuk,” David mengulangi ucapanya. Di arah luar kulihat Diana melambaikan tanganya padaku. Siapa coba yang tak senang, bila disapa seorang wanita cantik, penampilan menarik dan pasti terkenal di kampus . Kunaikkan lengan bajuku dan bergaya sok keren. Ia menghampiri aku dan David
Hatiku merasa bergejolak antara memilih ajakan mereka atau mengikuti kuliah hari ini. Sejujurnya karena mimpi itu, aku berkomitmen untuk lebih sungguh-sungguh kuliah. Mimpi itu bagai membuka pikiranku yang lama buntu. Sedikit membuka mata hatiku yang dulu dipenuhi hawa nafsu.
“ Yuk guys berangkat,” David mengangkat tasnya di meja.
“Oke, biar aku bayar dulu makananya,” Diana membuka tasnya
“Guys maaf sepertinya aku belum bisa ikut dulu deh, mau kuliah.” David dan Diana saling menatap tak percaya.
“jadi begini, dosennya killer banget, takut aku kalau nanti nilaiku jelek,” sambungku.
“kamu serius, sejak kapan seorang galang mikirin nilai,” David menonjok lenganku.

Di seberang kulihat seorang wanita yang kukenal berjalan tergesa. Mengecek buku di dalam tas besarnya kemudian menatap jam tanganya.
“ Shifa!!” seruku memanggil wanita itu. “ Duluan ya,” aku menepuk bahu David dan Diana. David menatap aneh sedang Diana melihat penuh selidik pada wanita itu.
Shifa, nama lengkapnya Ashifa. Dia adalah teman sekelasku yang biasa aku manfaatin untuk mengerjakan tugasku. Sesuai namanya dia tipe orang yang religius, patuh dan jauh berbeda dari wanita yang biasa dekat denganku. Gini- gini aku orangnya tampan juga, banyak wanita yang tertarik, atau bahkan ingin dekat denganku. Mungkin saja Shifa menyukaiku dari cara dia bersikap padaku.
“ Hai Lang,” Shifa terlihat canggung sekaligus merasa heran aku memanggilnya.
“Kenapa lihatnya seperti itu. Mulai sekarang aku akan belajar jadi mahasiswa teladan,” aku bersalaman dengan Shifa lalu berjalan menuju kelas.

Mungkin waktu memang mengharuskanku untuk berubah dan waktu juga yang akan menjawab jadi apakah diriku. Apa yang akan aku jalani bagaikan sebuah rencana yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Memang, mimpi hanya bunga tidur namun kadang didalamnya ada sebuah arti. Hari itu, Shifa berkata “aku baik padamu bukan karena apa-apa, aku ingin melihat masa depanmu lebih baik dan pasti tak mengecewakan orang tuamu.” Mimpi kemarin dan ucapan itu bagai dua suara berbeda yang memberikan satu arti bagiku yaitu aku harus berubah.

Pernah aku berkata pada Shifa aku ingin belajar darinya dan dia menjawab “Lang, aku bukan guru juga bukan orang hebat, hanya mahasiswa biasa, aku senang dengar ucapanmu itu, mari belajar bersama”. Sejak saat itu, aku dekat dengan Shifa. Tak pedui jika aku harus kehilangan predikat anak gaul dan bahkan dilihat menjadi anak cupu. Ya memang masa muda harus dimanfaatkan untuk bersenang- senang, namun kesenagan hari ini akankah dapat kita manfaatkan untuk mendapatkan kebahagiaan di masa depan. Akankah kalimat gaul akan dipertanyakan saat interview pekerjaan? Aku tak menyesal. Malah yang kusesalkan selama ini adalah kenapa aku tak bisa memanfaatkan sesuatu itu ketika aku diberi kesempatan.

“Shifa, menurutmu kedewasaan itu seperti apa?” aku mengalihkan perhatian shifa dari buku itu.
“Dewasa itu ketika kamu sudah bisa membedakan suatu hal yang kamu lakukan itu benar atau salah,” jawabnya seraya memandangku.
“ Wah, ternyata aku masih anak-anak ya,” Aku menggaruk kepalaku.
Ada sisi lain yang tak pernah kuketahui dari diri Shifa sebelumnya. Meski sikapanya innocent dan penampilan dia kalah jauh dari mereka-mereka yang kutemui dan meski awalnya aku berfikir tak kan nyambung jika berbicara denganya. Namun ternyata aku salah, bicara denganya aku seperti mendapatkan ketenangan juga inspirasi yang sebelumnya tak kurasakan.

“Kita hidup itu jangan hanya mengikuti arus air yang mengalir saja, tiap ada tantangan atau kesempatan yang tak mudah kita coba lewati bukan malah menghindar dan memilih jalan pintas,” ucap Shifa kala itu. Perkataan ini menyadarkanku akan suatu hal, selama ini aku menghindari kewajibanku. Aku memilih jalan yang menurutku paling mudah. Tidur, main, senang- senang seperti orang yang tak punya tujuan. Serasa aku menutup mata dan tak peduli akan orang yang baik padaku dan berkorban padaku.

“Mungkin aku harus memulai dari awal Ha, jujur aku tak mengerti apa-apa, bimbing aku ya,” aku sedikit memohon.
“Iya. Semuanya belum terlambat Lang, aku senang jika kamu mau belajar.” Aku dan Shifa diskusi dan tertawa bersama sambil menyeduh secangkir kopi panas. Tak lama, David dan rombongan kelompoknya datang dengan menatap sinis kerahku diikuti oleh Diana dan kawan- kawanya.
“Jadi, seleramu sekarang sepeti ini bro, oke kalau kamu ingin memutus persahabatan kita.” David berbisik dan tersenyum sinis kearahku.
“Aku tak pernah berfikiran untuk tak lagi bersahabat dengan kalian, mari belajar sama-sama dan menjadi orang yang lebih berguna,” aku seraya bangkit. David menanggapinya dengan menggebrak meja dan beranjak pergi bersama rombonganya. Aku mengelus dada dan hanya bisa berbicara dalam hati.

Lagi- lagi Shifa yang menenangkanku seolah dia seorang yang lebih dewasa dan bijak. Benar kata Shifa, bahwa yang terpenting aku sudah mengingatkanya. Dan buat apa aku menyesali sesuatu yang sudah pasti akan mengantarkanku pada hal yang buruk dan tak ada suatu hal berguna yang aku dapat. Aku berterima kasih pada Shifa.
Aku baru menyadari bahwa waktu adalah kesempatan yang berharga. Dan ilmu akan berguna selamanya, dan mungkin saja kesempatan untuk belajar seperti ini tak akan kudapatkan diwaktu mendatang. Dan aku bersyukur aku menyadarinya meskipun sedikit terlambat. Namun aku tahu tidak ada yang terlambat untuk belajar dan berjuang, for my future.

Kucari Shifa yang bagaikan seorang mentor bagiku. Kedewasaanya bersikap dan pemikiranya mebuatku ingin selalu bertemu denganya. Aku melihat Shifa berada diruang dosen. Shifa memanggilku untuk masuk kedalam, yang aku lihat Shifa sedang berbicara dengan rektor di kampus ini. “Aku tunggu diluar,”ucapku sedikit berbisik. Namun dia bersikeras mengajakku kedalam.

“Galang, kenalkan ini Ayah aku,” dia memperkenalkanku dengan seorang lelaki yang ada di hadapanya. Lelaki itu yang aku tahu adalah rektor di kampus ini.
Jujur aku merasa terkejut dan tanganku sedikit gemetar untuk berjabat tangan denganya. “kenalkan pak nama saya Galang.” Dia tersenyum dan membalas sapaanku. “ Saya ayahnya Shifa.”

Tak pernah kusangka bahwa Shifa adalah anak dari seseorang terpenting di kampus. Keseharianya yang sederhana jauh dari kata mewah tak pernah terpikirkan bahwa dia anak seorang rektor, dan pantas saja dia memiliki sikap, pemikiran dan kecerdasan tak seperti orang biasa. Dan hal yang membuatku merasa bahagia adalah dia mau berteman denganku yang hanya orang biasa, meski dia tau keburukanku sebelumnya dan membimbingku dalam proses belajarku. Dia bisa saja menolak dan memamerkan apa yang dia miliki namun Shifa bukan orang seperti itu. Dan kenyataanya tak banyak orang yang seperti Shifa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *