Si anak budi

*)ulil absor

 

Namaku Budi

Umurku delapan belas tahun, anak SMA kelas tiga daerah bandung sono

Ini kisahku dalam perjalanan hidup satu hingga dua tahun yang lalu

Waktu aku masih semangat belajar, membantu orang tua maupun orang lain

Sebagamana menjadi anak baik-baik

Hidup sebagai anak dari orang kaya, disayang kedua orang

Anak kesayangan dibandingkan kakak saya, karena saya selalu juara kelsa waktu SMP

Semua peelajaran hampir saya kuasai, dibandingkakan kakakku hanya suka menggambar dibuku dan meluskis kadang tidak dijual

Saya mau apapun pasti bisa diwujudkan oleh kedua orang tua

Minta hp terbaru dikasih

Minta leptop dikasih

Minta montor dikasih

Kuarang dimaja gimana coba

Orang tuaku sangat baik dan sayang kepadaku

Ayah, ibu aku sayang padamu

Ayah, ibu aku cinta kamu

Ayah, ibu aku ngefans samakamu

Tapi pada saat ini tiba, sepulang sekolah hari pertamaku ujian semester masuk SMA

Ayah belum pulang dari kerja, yang bisanya yambut diriku dengan seyuman

Melihat nilai-nilaiku yang selalu ayah banggakan, kata ibu ayah masih kerja

Kok tidak seperti biasanya bu?..tanyaku pada ibu lagi

Katanya ditelpon tadi masih lembur, jawab ibu lagi

Yah… tak seperti biasanya, terasa ada yang berbeda. Januari tanggal tujuh

Lalu aku ganti baju dan makan seperti biasanya, yang berbeda hanya tidak ada ayah

Bermain dan hari menjelang sore belajar dan mengerjakan PR, lalu tidur

Besok pagi aja aku akan ceritakan ujianku pada ayah, selamat tidur ibu

Paginya aku cepat-cepat bangun, untuk cepat-cepat bercerita pada ayah. Sebelum aku berangkat sekolah dan ayah berangkat kerja

Langsung saja menuju kamar ayah

Loh…loh mandi dulu sana baru sarapan. Celoteh ibu di rungan tengah

Ayah mana bu?, tanyaku pada ibu

Oh..masih tidur, katanya suruh bangunin jam tuju nanti, jawab ibu. Ayo siap-siap berangakat sekolah sana, lanjut perkataan ibu.

Ah iya bu.. hari ini terasa berbeda..

Berangkat pagi waktunya piket sekolah

Mungki waktunya aku bersikap dewasa, karena sudah SMA

Tidak lagi berbuat manja, aku harus bersemangat lagi untuk belajar. Biar orang tuaku bangga

Namun sampai di sekolah, tepat di depan gerbang sekolah

Ada dua anak laki-laki dan satu anak perempuan, mereka satu kelas denganku. Kenapa hatiku merasa dek-dekan begini

Hei… Budi, congkak irfan salah satu anak laki dari mereka

Ada apa fan, jawabku dengan singkat

Budi… budi, kamu anak yang pintar dan tampan dikelas, nanti kasih aku contekan ya, si ayu anak perempuan ini merayu.

Angga mendekat, lalu berucap tidak terlalu kencang. Namun kedengaran oleh kita berempat

Nanti kasih contekan ya.. kami bertika bangkunya dekat kamu. Kalau tidak awas..!

Tapi-tapi kalau kita ketahuan gimana?, lanjut aku berkata.

Si ayu berguma, anak perempuan paling cantik di kelas satu C pada saat ini.

Namun begini lah…kalian tau sendiri

Nanti-nanti kita kode-kodean begini

Sambil mempraktekan, jari-jarinya mempertunjukan isarat. Dari soal nomor awal hingga akhir

Lincah jari-jarinya tidak terlalu lama, iya-iya..aku jawab singkat lalu berjalan ke kelas

Sambil berfikir, toh nanti jawaban yang aku kasih banyak yang salah pastinya mereka tidak tau

Ujian aku terlewati tidak ada masaalah, dan mereka tidak tau sebagian banyak jawaban aku salahkan

Hari-hari berjalan seperti biasa, hanya aku merasa diriku beranjak dewasa

Ujian selesai, libur sekolah teh datang. Aku merasa lega

Namu ayah tetep sibu bekerja, biarlah ayah seperti ini

Mungkin untuk kesejahteraan keluarga, meski aku jarang ketemu

Malam ini pukul sebelas malam, suara menggelegar didalam rumah

Meyayat hati, ayah dan ibu bertengkar

Akupun ngitip di pintu kamarku, mereka kira aku sudah tidur

Dan kakak sedang ada acara diluar, tidak pulang tiga bulan kedepan

Januari tanggal dua puluh sembilan

Ada apa ini, kenapa ayah ibu betengkar?

Aku tidak mendengarkan suara meraka terlalu jelas, yang terdengar keras tangisan ibu

Pagi menjelang, hari ini masuk sekolah setelah libur panjang

Nilai semester telah muncul, siap-siap mereka tau hasil nilai contekan

Hahaha..biar mereka tau rasa, setelah mereka tau nilainya

Mereka tenang dan diam, rata-rata nilai mereka lima puluh dibawah nilai standar

Yang telah tersistem serentak dari pusat pemerintahan, hingga sekolah hanya menurut

Dan siswa hanya menurut saja, karena terasa baik-baik saja dan wajar untuk dipatuhi, meski kadang kesulitan

Harus memahami semua mata pelajaran

Hari ini pulang awal, disekolah belum pelajaran secara efektif

Keluar dari pintu gerbang, ada mereka bertiga

Apa lagi ini, mereka mau apa, hari ini aku lelah

Budi… apa-apaan ini kamu kemarin kasih jawaban palsu

Dan banyak yang salah, nilai kami terendah dikelas

Sedangkan kamu tetap juara kelas, suara irfan dengan wajar merah

Langsung mengayunkan lenganya, tinjuanya kena perutku.

Akk… tangan kananku memenggang perut, disambut kaki kangga menerjang badan samping kiri

Tangan ayu memegang kerahku dan berkata

Budi yang tampan jangan main-main dengan kami

Bajingan!

Anjing!

Hari ini aku sedang letih, lelah sedangkan mereka bertiga, kalah dong saya. Pada saat ini.

Setelah makan sepulang sekolah, aku kekamar berdiap diri

Kenapa hidupku begini, kemana kebahagianku yang dulu

Keluarga disekolah sama saja

Sampai malam menjelang tidur aku menghayati masalahku

Hari berganti

Berlanjut menuju hari berikutnya dan berikutnya , malam ini pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, malam begini hening, sunyi dan aku mulai terlelap

Brak!… suara meja terbalik, dirungtengah

Aku kaget, bangun dari tempat tidur. Ayah memarai ibu..

Plak!… suara tamparan

Tak lama ibu menangis, februari tanggal epat belas

Aku hanya menutup telinga, tidak mau mendengar dan lalu tidur

Paginya

Ibu seperti biasa, dan ayah masih tidur dikamarnya

Aku berangkat sekolah, disekolah aku duduk dipojok belakang dan berdiam diri

Hari ini terasa biasa, jam menujukan pukul empat belas. Waktunya pulang

Aku didatangi tiga cecunguk, buku mereka bertiga dilempar kebangku

Taklama angga memukul kecil di pipiku, berucap kerjakan PR kami ya

Ah… bangsat, aku kerjain lagi aja

Mereka pikir, aku mau dibuli. Aku membawa buku mereka dan pergi

keesok harinya mereka mendatangiku waktu pelajaran dimulai

tenang saja, tugasnya sudah aku kumpulkan sambi terseyum

tak lama mereka kembali ke tempat duduknya

lalu guru memanggil mereka berdua, rasain kamu ha ha ha ha

dalam hatiku tertawa lega

sepulang sekolah aku dihampiri mereka lagi di depan gerbang

bajingan lo budi, putripun memberikan umpatan padaku

mereka kembali memukuliku

aku bersukur yang dipukul bukan mukaku, orang tua bahkan orang lain tidak tau. Dan aku diam

 

 

padahal kamu bos dikantor, ngapain kamu harus lembur tiap malam

dan kenapa baju kamu bau parfum perempuan

lagian kamu lupa dengan aku dan anak-anak dirumah mas, suara  ibu

mereka bertengkar lagi, tanggal dua puluh empat februari. Tengah malam

akupun pusing mendengar mereka

ahhhhh……

sing harinya waktu istirahat sekolah, mereka bertiga mendatangkiku

mendekat ditepat dudukku

si ayu menarik tanganku menuju keluar kelas

taktir kami bertiga dikatinya, ucapan ayu

belum sampai keluar kelas, tidak mau… kuucapkan sampil menarik lenganku

kerah bajuku dipegang irfan, mendekat dielingaku. Mau aku pukuli disini kau

menariku menuju kantin, tangan kiriku memegang tangannya

anjing! sini lawan aku, tangan kanan menamparnya plak!

Perkelahian dimulai

Tangan kanan irfan menyambut pukulan kemukaku

Belum mengenai pipiku aku pegang, kaki angga meyambut dari kiri

Aku tersungkur menghantam tembok kelas buk!

Lalu dunia gelam…

Tiba-tiba aku terbangun di ruang UKS, tubuhku terasa linu sekali

Tak lama guru datang

Aku tak yangka, murid telada berkelahi disekolah, kenapa kamu menampar angga

Meraa kamu jagoan, karena murid didambakan guru kamu berhak melakuan apapun

Tapi-tapi bu?

Pergi tak mengucapkan gumah apapun

Apa-apaan ini, apa mungki musuh anak orang kaya didaerah ini seperti ini

Padahal ayahku juga kaya, meski dibawah keluarga mereka

Aku pulang…

Aku menangis dikamar sendiri, malam mulai lelap

Aku tetap nenangis, tubuhku sakit, kepalaku sakit

Hatiku hatiku menderita

Maret tanggal tujuh 2015 pukul dua belas malam

Brak!

Bruk!

Clang!

Bum!

Kita cerai!

Suara terdengar keras, aku rasa semua barang berserakan, suaranya diruang tengah

Aku menangsi catan yang aku pegang malam ini

Begetar! lalu coret-cores saja

Aku tulis

MATI

Dan aku temukan catatn ini dibawah kolom tidur adikuk

Setelah gantung diri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *