Perlukah Audiensi Mahasiswa?

Audiensi-mahasiswa merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) untuk mewadahi aspirasi mahasiswa terhadap kebijakan kampus STKIP PGRI Tulungagung. Audiensi-mahasiswa seharusnya menjadi media yang paling efektif dalam memecahkan persoalan di lingkungan akademik. Baik persoalan mengenai fasilitas, teknis, maupun profesionalitas dosen. Namun, bagaimana jika audiensi dipandang sudah tak lagi efisien dalam menyuarakan asiprasi mahasiswa?

Rabu (11/04) lalu, audiensi mahasiswa STKIP PGRI Tulungagung kembali digelar. Bertempat di gedung Auditorium STKIP PGRI Tulungagung, kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 3 jam. Sama seperti biasanya, ada banyak aspirasi mahasiswa yang diutarakan dalam kegiatan ini. Mulai dari bidang pelayanan BAA, BAU, Perpustakaan, sarana dan presarana hingga profesionalitas dosen pun turut disampaikan.

Namun, dari banyaknya aspirasi yang diutarakan, mayoritas aspirasi – aspirasi tersebut sama dengan apa yang pernah diutarakan pada tahun – tahun sebelumnya. Terbukti, sesuai  hasil rekapitulasi angket yang disebarkan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), masih banyak aspirasi yang menyinggung mekanisme, fasilitas, serta profesionalitas dosen dinilai cukup dengan catatan. Kondisi demikian menimbulkan asumsi mengenai kedudukan forum audiensi mahasiswa yang dirasa lunak dalam menanggapi aspirasi mahasiswa. Apakah selama ini audiensi mahasiswa hanya akan menjadi angin lalu saja ? Sebut saja permasalah koneksi wifi yang dari tahun ke tahun selalu mendapat porsi aspirasi dari mahasiswa.

Antoni, salah satu anggota LPM Sketsa berpendapat,“wifi di kampus tidak sama rata, hanya beberapa saja yang memuaskan bahkan hanya beberapa yang bisa digunakan. Contohnya saja wifi STKIP PGRI TULUNGAGUNG kalah dengan wifi RUANG DOSEN. Dan beberapa minggu terakhir wifi di kampus dirasa menurun kualitasnya, sehingga saya harus ganti ganti menyambungkan wifi hingga ada yang bisa digunakan.”

Senada dengan pendapat yang dikeluarkan Antoni. Novan Eka yang juga mahasiswa Pendidikan teknologi Informasi semester enam mengatakan,”Kecepatan wifi dikampus sangat parah sekali digunakan untuk mencari materi pelajaran hanya dapat loading yang tak berujung dan dibeberapa tempat sinyal wifi sangat sulit sekali di akses contohnya di ruang F2.2.”

Pada dasarnya permasalahan seperti koneksi wifi memang selalu mendapat respon paling cepat dari mahasiswa. Mengingat kebutuhan untuk mencari referensi tugas ketika berada di lingkungan kampus. Memang dalam pengaplikasiannya terdapat banyak akses wifi yang bisa ditemukan di lingkungan kampus. Selain itu, profesionalitas dosen juga selalu menjadi bahan pembicaraan dari tahun ke tahun audiensi diadakan.  Selain itu fasilitas yang sering ditemui kurang baik adalah beberapa kipas angin yang tidak berfungsi dan proyektor yang sulit disambungkan ke perangkat laptop.

Menanggapi hal tersebut, Ina Zeniuswin selaku ketua pelaksana Audiensi Mahasiswa mengatakan, “Setelah Audiensi ini, dari DPM punya rencana bahwa kita akan memantau dari berbagai bidang. Misal sarpras, seperti kipas angin, proyektor, nanti kita akan survey apakah sudah dibenahi apa belum. Mungkin dalam jarak 1 bulan aspirasi itu harus sudah terpenuhi. Atau mungkin kayak kamar mandi dan lain – lain. Kita akan terus mengingatkan dari bidang tersebut kepada lembaga untuk segera membenahi. Tidak hanya sekedar forum saja”.

Selain dari pihak DPM sendiri, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga menuturkan bahwa pihaknya akan ikut serta megawal hasil keputusan Audiensi Mahasiswa. Terutama pengawalan aspirasi mengenai permasalahan yang dihadapi oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP). “Tahun ini temen – temen dari DPM sendiri juga ngawal, dari BEM sendiri juga ngawal karena terkait permasalahan yang dihadapi UKM dan HMP”. Tutur Anang Setyawan selaku Menteri Luar Negeri BEM.

Memang dari kegiatan Audiensi, mahasiswa memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya mengenai kebijakan- kebijakan kampus. Akan tetapi dalam mekanismenya tidak semulus yang diharapkan mahasiswa. Pertanyaannya, apakah perlu diadakan audiensi mahasiswa jika masukan- masukan yang realistis tak kunjung di eksekusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *